Selasa, 08 Maret 2011


Sekilas tentang "Shutter speed, aperture, ISO".

Dalam fotografi, baik itu analog ataupun digital, tiga faktor diatas …. Shutter speed, aperture dan ISO …. merupakan faktor penentu untuk mendapatkan ‘exposure’ yg tepat. Ketiga nya harus dipilih pada besaran tertentu untuk mendapatkan kombinasi yg paling sesuai, sehingga menghasilkan foto dengan pencahayaan yang cukup… tidak lebih tidak kurang. Tapi bagimana cara kita memilih nya? Hehehe…. disitulah asyiknya fotografi… memainkan kombinasi tiga factor itu, apalagi ditambah dengan unsur komposisi, membuat fotografi suatu pekerjaan yg menyenangkan dan tidak membosankan…… karena kemungkinan kombinasinya bisa mencapai tak terhingga…… menarik khan?

Shutter speed, aperture dan ISO masing2 mewakili tiga unsur utama komponen ‘gear’ kita. Shutter speed itu faktor ‘kamera’, aperture itu faktor ‘lensa’ dan ISO itu faktor film/sensor yg kita pakai. Biar lebih mudah membayangkannya… kita mulai bahas dari kamera analog (kamera yg masih pakai film) saja … anggap aja kita mundur ke tahun 1960-70an dimana kamera analog full mekanik merajalela di dunia fotografi. 

Shutter speed (kecepatan rana membuka) … atau sering disingkat speed atau shutter saja … adalah factor yg menurut gw paling gampang kita kontrol. Pada kamera klasik (= kuno), speed yg tersedia biasanya mulai dari 1 detik, lalu ½ detik, ¼ detik, 1/8, 1/15, 1/30, 1/60, 1/125, 1/250, 1/500 dan 1/1000 detik. Biar gak ribet, biasanya cuma ditulis penyebutnya saja….. jd pada pengatur speed umumnya terlihat angka 1, 2, 4, 8, 15, 30, 60, 125, 250, 500, 1000 . 

Deretan 11 angka itu menunjukkan berapa lama rana (tirai penutup film) akan membuka shg memberi waktu cahaya untuk menyinari film, misal kita pilih angka 30 .. artinya film akan disinari selama 1/30 detik … kalo kita pilih 125 artinya film disinari selama 1/125 detik , dan krn dianggap tiap step merupakan separuh waktu dari angka sebelumnya …maka ‘30’ adalah 4xlipat waktu bukaan rana ‘125’. Gampang khan, hehehe….


Kalo Aperture (bukaan lensa), itu maksudnya seberapa besar ‘jalan’ sinar lewat lensa. Makin lebar diameter lensa, makin ‘cepat’ lensa itu melewatkan sinar. Rumusan dasarnya mungkin spt ini :

Focal length lensa
---------------------- = kekuatan lensa
Diameter lensa


Jadi kalau ada lensa dgn titik api 55 mm dan diameternya 40 mm, kekuatan nya 55/40 = 1.4 . Angka ini biasanya dicantumkan di lingkaran depan lensa …. Misalnya MC Rokkor PG - 55 mm - f/1.4 yg artinya lensa Rokkor dgn titik api 55 mm dan kekuatan f/1.4 . 

Untuk mengatur bukaan lensa, di dalam lensa ada bilah2 spt mata kucing yg disebut diagfragma, dimana dia bisa membuka dan menutup untuk mengatur diameter jalan yg dilalui sinar. Jadi kalau lensa diatas dgn titik api (focal length = FL) 55 mm tapi diafragmanya di tutup mengecil shg tinggal terbuka 5 mm, maka angka f/ nya adalah 55/5 = 11. Angka2 inilah yg bisa kita pilih untuk ‘mengatur’ lebar jalan sinar…… pabrikan sudah menetapkan angka2 sbb : 1,4 – 2 – 2,8 – 4 – 5,6 – 8 – 11 – 16 untuk pilihan diagfragma, dimana sama spt shutter speed….. tiap step merupakan setengah lebar jalan sinar angka sebelumnya. Angka 5,6 melewatkan sinar setengah dari angka 4 ...demikian seterusnya. 

Dan tentang ISO ( International Organization for Standardization) merupakan angka yg menunjukkan derajat kepekaan film terhadap sinar. Dulu sering dipakai ASA (American Standards Association) ataupun DIN (German Institute for Standardization), tapi untuk memudahkan penggunaan sekarang dipakai ISO sebagai standar yg dipakai di dunia. Kepekaan film mulai dari 25 – 50 – 100 – 200 – 400 – 800 – 1600 – 3200 merupakan kecepatan yg populer dan banyak di pakai secara luas. Makin besar angkanya menujuknan makin sensitif film thd sinar, atau makin sedikit sinar yg dibutuhkan untuk mendapatkan exposure yg tepat. Dan tentu saja, sama seperti speed dan aperture, angka inipun menunjukan kepekaan keliapatan dua kalinya …. Dimana kepekaan film ISO 400 artinya 2x dari ISO 200 … dan sudah tentu 4x dari ISO 100. 


Mungkin sudah terbayang bagaimana kita harus memilih ketiga ‘unsur’ di atas. Misal kita memilih pasangan film ISO 100 – speed 1/125 – f/ 5.6 …. Maka hasilnya akan sama dgn kalo kita pilih ISO 100 – 1/60 – f/8 , karena waktu nya diturunkan setengah tapi lebar jalan nya di naikan setengah. Sama juga dgn ISO 100 – 1/1000 – f/2.8 .. dan lain sebagainya. 

Jadi dari ketiga unsur itu, yg mana dulu yg kita pilih? Supaya gampang kita pilih saja dulu film nya….. Makin tinggi ISO makin sensitif dia dan makin sedikit sinar yg dibutuhkan. Apakah film ISO tinggi lebih baik dan lebih ‘serba guna’ ? Ternyata tidak juga…. krn makin tinggi ISO biasanya makin banyak grain yg akan kita dapat, dan ada kondisi pemotretan yg membutuhkan kecepatan rendah shg kalo kita pakai ISO tinggi hasilnya akan over exposure. Kalo gitu pilih saja ISO rendah… biar tidak grainy dan bisa motret pakai long exposure……. Tapi bagaimana kalau kita perlu motret di cahaya redup spt konser musik ataupun di dalam ruangan? Sudah pasti sulit bila kita pakai ISO rendah.

Kalo gitu ISO medium aja…… mungkin bener juga, tp ISO medium biasanya hanya cocok utk kondisi2 ‘normal’ dan tidak bisa dipakai untuk kondisi ekstrim seperti contoh diatas. Jadi gimana donk?? Hehehe….memang tidak ada ISO yg universal (=serba bisa), semua harus disesuaikan dgn keperluan kita akan motret apa, bagaimana kondisi sinarnya, kecepatan gerak obyeknya, gear yg kita pakai dan lain sebagainya. Bingung?? Jelas bingung…..lha wong gak ada patokannya, trus gimana milihnya….. 

Biar gak sukar, buat awalan kita pilih aja film medium speed … yaitu ISO 100 atau 200, toh kita juga belum akan motret kondisi2 ekstrim seperti para maniac foto itu…. 

Trus gimana soal speed dan aperture?? 

Efek speed rendah adalah membuat gambar ‘blur’ … orang jalan akan blur di kecepatan lebih lambat dari 1/60 detik, orang berlari blur bila di foto dgn speed dibawah 1/125, sepeda berjalan blur bila speed dibawah 1/250, mobil berjalan blur bila speed dibawah 1/1000. Itu sekedar patokan kasar saja lho….. 

Diagfragma lebar (misal f/1.4) membikin ruang tajam menyempit…. Jadi kalo kita motret orang berbaris, mungkin hanya baris 1 dan 2 yg tajam… selebihnya akan kabur (out of focus) . Jadi kalo kita pingin gambarnya in-focus dari depan sampai belakang, kita harus pakai bukaan yg sempit (misal f/16) . 

Nahh… jika kita sudah punya film ISO 200, dan ingin motret orang berjalan, artinya kita kudu pakai speed diatas 1/60 biar gambarnya gak kabur krn gerakan orangnya. Misal kita pilih 1/125 ….. atur aja kecepatan di angka 125 … trus liat ke pengukur cahaya di kamera kita , dan pilih bukaan diagfragma yg sesuai supaya penunjuk pengukur cahaya mengisyaratkan ‘exposure sudah cukup’ .

Tidak sukar khan?? coba aja dulu….. jangan terlalu banyak pusing dgn teori duluan, ntar malahan gak jadi motret….. LOL

Salam jepret.... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar